tv streaming

tv streaming

YouLyrics

Translate

Total Tayangan Laman

islam fiqih

Minggu, 19 Februari 2012

NILAI SHOLAT


Nilai dari Shalat dengan Budaya Mundur
Oleh :Alfan b.d
Kajian kali ini penulis ingin sedikit menyinggung tentang pentingnya budaya dengan pendekatan syari’ah. Shalat yang merupakan tuntutan umat muslim ternyata menyimpan hikmah yang begitu tinggi nilainya.Penulis ingin menggambarkan sebuah contoh tentang berjamaah, yang disitu melibatkan satu unsur penting, yaitu imam (pemimpin).Berjalan syah dan tidaknya ibadah tersebut tergantung keadaan imam. Namun si imam juga tidak bisa semena-mena mengendalikan posisinya , karena kendalinya juga di atur dengan syarat, rukun yang semuanya di manuver penuh oleh syari’ah.
Agar kita sepaham atau kalau tidak sepaham, sekurang-kurangnya demikianlah pemahaman saya, mundur dalam konteks budaya mundur tidaklah bermakna dalam arti gerak yang konkret, "space-like" (untuk meminjam istilahnya Einstein), melainkan mengandung pengertian yang abstrak. Seperti misalnya yang kita ucapkan dalam Shalat: Wajjahtu wajhiya lilladziy fathara al-samawaati wa al-ardha, kuhadapkan muka kepada yang menciptakan langit dan bumi. Menghadapkan muka di sini tidaklah bermakna dalam arah yang space-like, melainkan abstrak, karena Allah tidak mengisi ruang yang space-like, Subhanallah, Maha Suci Allah dari sifat yang demikian itu.
Ajaran Islam mengandung akidah, hukum syari'ah dan akhlaq. Ketiga unsur itu merupakan satu system, artinya tidak berdiri sendiri, melainkan ada kaitan di antara ketiganya, itulah yang disebut dengan kaffah. Dalam hukum syari'ah ada yang menyangkut dengan hubungan antara manusia dengan Allah yang disebut dengan hablun mina Allah dan ada yang menyangkut dengan hubungan antara manusia yang disebut hablun mina naas. Kedua sub-unsur itu juga merupakan satu sistem, tidak berdiri sendiri, ada kaitannya.
Shalat menyangkut dengan hablun mina Allah. Namun demikian, berdasar atas prinsip kaffah (sistem), maka shalat itu tidaklah lepas dari hablun mina naas. Dalam fiqih, pendekatan secara kaffah ini tidak dipakai, sebab yang dibahas hanya tentang apa hukumnya, yakni menyangkut status wajib, bagaimana cara pelaksanaannya, apa rukunnya, persyaratan untuk syahnya dan apa yang membatalkannya. Hal ini memang penting tetapi belum cukup. Padahal kalau pembahasan itu memakai pendekatan kaffah maka akan terungkap bahwa dalam shalat itu terdapat nilai-nilai yang mengisyaratkan bagaimana seharusnya orang itu hidup bermasyarakat dan bernegara, hablun mina naas.
Saya teringat sebuah peristiwa dalam bulan Ramadhan kemarin. Allahu yarham H. Abdul Ghani, imam tetap masjid sebuah daerah di Kediri waktu itu sedang mengimami shalat maghrib. Sementara membacanya pangumpuk (mengalami gangguan tenggorokan penuh dahak)' beliau diserang batuk. Beliau lalu menyingkir ke samping, lalu salah satu makmum mengganti posisisnya, maju ke depan melanjutkan mengimami shalat maghrib, bacaan pangumpu' yang sempat terhenti disambung serta gerak shalat diteruskan.
Dalam pengertian space-like, Allahu yarham H. Abdul Ghani menyamping ke pinggir, dan dalam arti abstrak mundur. Dalam konstruksi masjid, pada bagian mihrab harus ada pintu. Maksudnya pintu itu antara lain khusus disediakan bagi imam untuk keluar masjid pergi beristirahat, jika sementara shalat imam tidak sanggup atau tidak wajar lagi untuk mengimami shalat. Ketidak sanggupan itu ada yang nampak, namun ada yang tidak nampak. Semisal diserang batuk, itu adalah ketidak sanggupan yang kelihatan. Kalau mengeluarkan angin, wudhu akan batal, shalatpun akan batal. Dan ini adalah ketidak bolehan memimpin shalat yang penyebabnya tidak dapat dipantau oleh makmun. Jadi etika kepemimpinan menurut Islam, seorang pemimpin akan dengan ikhlas mundur kalau sudah tidak sanggup atau tidak pantas lagi menjadi pemimpin, apakah ketidaksanggupan atau ketidakpantasan itu dapat dipantau atau tidak oleh para pengikutnya.
Adapun nilai lain dalam shalat yang mengisyaratkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang imam (baca pemimpin) yang melakukan kesalahan, salah bacaannya atau salah gerakannya wajib ditegur (baca unjuk rasa) oleh makmun (baca pengikut). Kalau yang menegur itu laki-laki ucapan teguran itu adalah kalimah subhanallah, untuk gerakan yang salah, dan membacakan bacaan yang benar untuk membenarkan bacaan imam.
Sedang kalau yang menegur itu perempuan cukup dengan isyarat menepuk punggung tangan. Dan imam harus tunduk pada teguran, memperbaiki bacaannya atau memperbaiki gerakannya. Demikianlah nilai yang dapat disimak yang diisyaratkan oleh nilai dalam shalat tentang kepemimpinan dan kepengikutan. Seorang pengikut wajib menegur pemimpinnya. Namun cara menegur haruslah sopan, tidak boleh vulgar. Unjuk rasa dengan kalimah Subhanallah bermakna bahwa Allah Maha Suci, hanya Allah yang luput dari kesalahan. Adapun manusia itu tidak akan sunyi dari kesalahan. Pemimpin harus dengan ikhlas dan berlapang dada menerima unjuk rasa, karena teguran itu adalah untuk memperbaiki demi kemaslahatan bersama, bukan untuk menjatuhkan.
Apabila benar bahwa menurut penelitian budayawan dan pakar sejarah budaya mundur itu bukanlah budaya bangsa Indonesia, maka alangkah sayangnya hal itu, oleh karena pertama, mayoritas bangsa Indonesia adalah umat Islam, dan kedua, agama Islam sudah berabad-abad dianut di Indonesia, sehingga semestinyalah budaya mundur itu (selesai periode shalat, maupun sementara melaksanakan keimaman dalam shalat) telah mengakar di kalangan umat Islam di Indonesia.
Adalah tanggung jawab seluruh umat Islam agar nilai mundur yang diisyaratkan oleh ibadah shalat itu dimasyarakatkan, didarah-dagingkan, dibudayakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Membudayakan budaya mundur bukanlah meniru-niru budaya bangsa lain, karena budaya mundur itu adalah bagian dari ajaran Islam. Yang salah besar jika teknis pelaksanaan budaya mundur itu meniru cara Bushido Jepang, harakiri. Akan halnya unjuk rasa haruslah berlandaskan nilai subhanallah. Pelaksanaan teknisnya telah dicontohkan oleh para alim-ulama sewaktu berunjuk rasa yang sejuk tentang hal SDSB sekitar empat atau lima tahunan yang lalu di Jakarta.

Reaksi:

0 komentar: