Banyak
orang di zaman kita menyebarkan anggapan keliru bahwa kaum Asy'ariyah
mengingkari sifat-sifat Tuhan, mengosongkan makna teks, dan terjebak dalam
penyangkalan sifat-sifat Tuhan. Klaim ini, pada kenyataannya, tidak didasarkan
pada pengetahuan atau penyelidikan, melainkan pada dugaan dan kecurigaan. Yang
benar adalah bahwa kaum Asy'ariyah termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Ahli
Sunnah dan Masyarakat), yang menegaskan bagi Tuhan sifat-sifat kesempurnaan yang
telah Dia tegaskan bagi diri-Nya, dan menyatakan-Nya bebas dari segala sifat
ketidaksempurnaan yang tidak sesuai dengan keagungan-Nya.
Pertama:
Sifat-sifat yang ditegaskan oleh kaum Asy'ariyah . Kaum Asy'ariyah menegaskan bagi Allah SWT sifat-sifat
wajib yang ditunjukkan oleh akal dan wahyu, seperti:
Sifat ilmu: Maha Suci Dia, Maha Mengetahui segala sesuatu.
Atribut kekuasaan: Tidak ada sesuatu pun di bumi atau di surga yang berada di
luar kekuasaan-Nya.
Sifat kehendak: Apa yang dikehendaki Tuhan pasti terjadi, dan apa yang tidak
dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi.
Atribut kehidupan: kehidupan yang lengkap dan kekal yang tidak mengalami
pembusukan.
Sifat pendengaran dan
penglihatan: Ia mendengar dan melihat
tanpa alat atau anggota tubuh.
Atribut ucapan: ucapan yang sesuai dengan keagungan-Nya, abadi dan tidak
diciptakan.
Dengan cara ini, mereka secara definitif membuktikan sifat-sifat
ilahi dan mengingkari semua kekurangan dan asal usul dari sifat-sifat tersebut.
Kedua: Pendapat
mereka tentang sifat-sifat deskriptif: Adapun sifat-sifat yang maknanya tampak dalam bahasa Arab
adalah perbandingan dengan makhluk, seperti: tangan, wajah, mi'raj, dan
turunnya, maka kaum Asy'ariyah memiliki dua pendapat:
1. Sebagian mereka menyerahkan maknanya kepada Allah SWT, dengan
mengatakan: Kami beriman kepada lafadz-lafadz yang diturunkan, dan kami
menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari segala makhluk.
2. Sebagian mereka menafsirkannya dengan cara yang masuk akal, dengan
mengatakan: Tangan berarti kekuasaan, dan bangkit berarti keunggulan dan
kekuasaan.
Tujuan setiap orang adalah untuk menolak antropomorfisme dan
korporealisme, dan untuk menegaskan kesempurnaan Tuhan dan transendensi-Nya di
atas peristiwa-peristiwa.
Ketiga: Apa yang sesungguhnya
mereka ingkari: Kaum Asy'ariyah mengingkari sifat-sifat ketidaksempurnaan
Tuhan yang tidak sesuai dengan Tuhan yang sempurna, seperti: kelemahan,
ketidaktahuan, perubahan, pengaruh, jasmani, inkarnasi, dan keterbatasan.
Inilah yang ditunjukkan oleh teks-teks Al-Qur'an dan Sunnah. Allah SWT
berfirman: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat."
Kesimpulannya, kebenarannya adalah bahwa kaum Asy'ariyah tidak mengingkari
sifat-sifat Tuhan; sebaliknya, mereka menegaskannya dengan cara yang sesuai
dengan keagungan dan kesempurnaan Tuhan, sekaligus menegaskan transendensi dan
kebebasan-Nya dari segala kemiripan dengan ciptaan-Nya. Tuduhan yang beredar
tentang pengingkaran atau peniadaan sifat-sifat Tuhan hanyalah klaim yang tidak
berdasar. Kaum Asy'ariyah adalah—dan tetap—mazhab sejati dalam Islam Sunni,
pembela doktrin Islam, dan berkomitmen untuk menyelaraskan pengetahuan yang
sahih dengan akal yang jernih.
Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari rahimahullah benar ketika berkata:
“Kami percaya bahwa Allah memiliki sifat-sifat abadi yang ada pada Diri-Nya,
dan tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat
tersebut.”
0 Komentar
SOLATLAH SEBELUM DI SOLATKAN.