Deskripsi
masalah.
Bakso
yang sering kita jumpai, itu sebelumnya melalui proses
penggilingan dulu.
ketika di depot penggilingan daging pada umumnya, kemudian saat prosesnya ada sebagian
cara sebagai
berikut
». Daging sapi atau ayam yang masih menempel darahnya di masukan
ke dalam mesin penggilingan, supaya daging terproses menjadi lembut di campuri dengan es batu nanti hasilnya daging menjadi lembut
berair dan berwarna merah darah.
». Kemudian daging, tepung, dan bumbu di
masukan dalam mesin gilingan yang ke 2 lalu di campuri es batu lagi.
Pertanyaan
:
Sucikah
daging yang sudah terbentuk lembut serta berair yang berwarna merah
darah ?
Jawaban:
Daging yg masih ada sisa darahnya terjadi khilaf:
·
Mutanajjis secara muthlaq
(bercampur dengan benda lain seperti air atau tidak)
·
Mutanajjis ketika bercampur
dengan benda lain
·
Mutanajjis, namun dima’fu
·
Suci
Referensi
فتح العلام ج ١ ص ٣٥٩
( فرع ) في دم اللحم
ويعفي عن الدم الباقي علي اللحم
حتى لو طبخ وصار الماء متغيرا به لا يضر علي المعتمد سواء كان واردا او مورودا نعم
ان لاقاه ماء لغسله اشترط زوال اوصافه قبل وضعه في القدر ومن ذالك يعلم ان ما
يفعله الجزارون الان من صبهم الماء على اللحم لازالة الدم عنه مضر لعدم زوال
الاوصاف وحينئذ على من يأخذ من هذا اللحم ان يغسله قبل وضعه في القدر حتى تصفو
الغسالة فليتنبه لذالك .
وقيل يحب غسله مطلقا وان لم يصبه ماء
وقيل يعفى عنه وان اختلط بأجنبي
وقيل انه طاهر .
[الأنصاري، زكريا ,أسنى المطالب في شرح
روض الطالب ,1/12]
(قَوْلُهُ كَدَمٍ) الدَّمُ الْبَاقِي عَلَى
لَحْمِ الْمُذَكَّاةِ وَعَظْمِهَا نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فَقَدْ قَالَ
الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا مَا بَقِيَ مِنْ الدَّمِ الْيَسِيرِ فِي بَعْضِ الْعُرُوقِ
الدَّقِيقَةِ خِلَالَ اللَّحْمِ فَهُوَ عَفْوٌ
(المجموع شرح المهذب : ج ٢ ص ٥٧٦)
(فرع) مما تعم به البلوى الدم الباقي على
اللحم وعظامه وقل من تعرض له من اصحابنا فقد ذكره أبو إسحق الثعلبي المفسر من
اصحابنا ونقل عن جماعة كثيرة من التابعين انه لا بأس به ودليله المشقة في الاحتراز
منه وصرح احمد واصحابه بان ما يبقى من الدم في اللحم معفو عنه ولو غلبت حمرة الدم
في القدر لعسر الاحتراز منه
“(Cabang)
terkait hal yang umumnya terjadi adalah darah yang tersisa pada daging dan
tulang (hewan), dan sedikit sekali ulama dari kalangan ashab kami yang
menjelaskan hal itu. Al-Imam Abu Ishaq Ats-Tsa’labi seorang ahli tafsir dari
kalangan ashab Syafi’i telah menyebutkan dan menukil dari banyak ulama tabi’in
bahwa yang demikian itu (yakni darah yang tersisa pada daging dan tulang hewan)
tidaklah apa-apa. Dalilnya adalah (karena) sulit untuk mencegah (atau menghindari
hal itu). Al-Imam Ahmad dan para ashabnya pun menjelaskan bahwa darah yang
tersisa pada daging (hewan) adalah dima’fu meskipun warna merah darah tersebut
mendominasi dalam (wadah atau cawan) karena saking sulitnya untuk mencegah
(atau menghindari hal itu)“

0 Komentar
SOLATLAH SEBELUM DI SOLATKAN.